Jumat, 17 Oktober 2008

Senin, 13 Oktober 2008

makna lambang ipsi

Makna Lambang IPSI (Ikatan Pencak silat Seluruh Indonesia)

Ditulis pada oleh AlfinNR

Makna Lambang IPSI

LOGO IPSIWarna Kuning : berarti bahwa IPSI mengutamakan budi pekerti dan kesejahteraan lahir dan batin
dalam menuju kejayaan nusa dan bangsa

Bentuk Perisai Segi Lima : berarti bahwa IPSI berasaskan landasan idiil Pancasila, serta bertujuan
membentuk manusia Pancasila sejati

Sayap Garuda berwarna

Kuning berototkan merah : berarti kekuatan bangsa Indonesia yang bersendikan kemurnian, keluruhan dan
dinamika, Sayap 18 lembar, bulu 5 lembar + 4 lembar + 8 lembar berarti tanggal
berdirinya IPSI adalah 18 Mei 1948. Sayap 18 lembar, terdiri dari 17+1 berarti
IPSI dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan berssatu membangun negara

Untaian lima lingkaran : melambangkan bahwa IPSI melalui olahraga merupakan ikatan peri
kemanusiaan antara pelbagai aliran dengan memegang teguh asas kekeluargaan,
persaudaraan dan kegotong royongan

Ikatan pita berwarna merah

Putih : bahwa IPSI merupakan suatu ikatan pemersatu dari pelbagai aliran Pencak
Silat, yang menjadi hasil budaya yang kokoh karena dilandasi oleh rasa
berbangsa, berbahasa dan bertanah air Indonesia.

Gambar tangan putih

di dalam Dasar hijau : menggambarkan bahwa IPSI membantu negara dalam bidang ketahanan
nasional melalui pembinaan mental/fisik agar kader-kader IPSI berkepribadian
nasional serta berbadan sehat, kuat dan tegap.

Sumber : silatindonesia.com

perjalanan panjang IPSI

Perjalanan Panjang Ipsi

Kesadaran nasional yang timbul dengan melawan penjajah Belanda membawa penghargaan baru terhadap pencak silat yang dipandang sebagai salah satu corak kebudayaan nenek moyang kita atau menurut Presiden Sukarno sebagai "pusaka turun temurun yang menghiasi serta berguna bagi nusa dan bangsa Indonesia". Semakin kiat masyarakat kita mencari kebesaran nasional dan kebudayaan sendiri, semakin kiat pula keinginan untuk memahami dan mengembangkan pencak silat.

Usaha melihara pencak silat pada masa awal Republik Indonesia memang diperlukan oleh karena ilmu beladiri khas Melayu ini sedang mengalami krisis. Banyak perguruan yang tidak berfungsi lagi, dan tidak sedikit tokoh dan pendekar yang mengasingkan diri dari dunia persilatan. Hal ini disebabkan oleh ketidakstabilan politik dan ekonomi di negara kita yang baru merdeka. Pengaruh lain tidak adanya rangsangan dari luar yang dapat mendorong perkembangan pencak silat. Selama penjajahan Belanda dan Jepang pencak silat mempunyai peran yang hakiki di masyarakat sebagai sarana serangan dan beladiri, tetapi dengan perubahan jaman belum ditemukan arti dan fungsi yang sesuai dengan masa perdamaian.

Dengan timbulnya kesadaran bahwa pencak silat perlu dikembangkan, maka dipandang penting mendirikan sebuah organisasi yang bersifat nasional agar dapat membina kehidupan pencak silat di seluruh Indonesia. Cita mulia ini tidak dapat direalisir dengan mudah, oleh karena banyak perguruan pencak silat yang masih menutup diri, bersaing atau konflik karena perpecahan. Kalangan pendekar juga terpisah karena afiliasi partai atau loyalitas kepada suku yang berbeda. Selain itu masih banyak pendekar yang tidak mau bekerja sama karena merasa jagoan di daerahnya.
Namun pada akhirnya, ungkapan rasa kecintaan terhadap pencak silat dituangkan dalam berdirinya satu organisasi yang mengayomi aliran-aliran pencak silat yang tersebar di Nusantara. Pada tanggal 18 Mei 1948 didirikan Ikatan Pencak Seluruh Indonesia yang sesudah kurang lebih 25 tahun akan mengganti nama menjadi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Pada kongres kedua yang diadakan antara 21-23 December di Yogyakarta diputuskan untuk mengkukuhkan IPSI dan menyusun Pengurus Besar baru sebagai Ketua Umum Mr. Wongsonegoro -yang pada waktu itu menjabat sebagai Menteri P Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PP dan K, sekarang Depdikbud)-
Wakil Ketua Umum Sri Paduka Paku Alam dan Penulis I Sdr. Rachmad.

Dengan mendirikan organisasi ini diharapkan bahwa pencak-silat dapat digerakan dan disebarluaskan sampai ke pelosok-pelosok sebagai suatu ekspresi kebudayaan nasional. Masyarakat juga mengharapkan bahwa pencak silat distandarisasi agar dapat diajarkan sebagai pendidikan jasmani di sekolah-sekolah, dan dapat dipertandingkan dalam even-even olah raga nasional. Sesuai dengan keinginan tersebut, langkah pertama yang diusahakan IPSI adalah terbentuknya suatu sistem pencak silat nasional yang dapat diterima oleh seluruh perguruan yang ada di tanah air. Untuk sementara waktu, diadopsikan sebagai 'standaard-system' pelajaran pencak silat dasar yang sudah disusun oleh RMS Prodjosoemitro dan diajarkan di sekolah-sekolah di wilayah Solo dengan dukungan PP dan K Balai Kota Surakarta. Hasil dari usaha standarisasi semula ini dapat diamati pada Pekan Olah-Raga Nasional (PON) ke-I yang diadakan pada tanggal 8-12 September 1948 di Solo. Lebih kurang 1000 anak mengadakan satu demonstrasi pencak dengan gerakan yang standar dan sinkronis. Pada even olahraga nasional pertama ini, pencak juga dilombakan sebagai demostrasi dalam kategori solo dan ganda tangan kosong/senjata, suatu tradisi yang akan terus berlangsung sampai PON ke-VII di Surabaya pada tahun 1969.

Di tahun-tahun berikut di beberapa daerah juga disusun paket pelajaran dengan metode-metode baru yang praktis agar pencak silat dapat diajarkan dengan muda kepada segenap lapisan masyarakat. Misalnya, di daerah Yogyakarta, pelajaran pencak diberikan melalui gelombang Radio Republik Indonesia (RRI). Tiap hari Senin, Rabu dan Saptu, pukul jam 6,30 pagi, pemirsa dapat mendengar instruksi-instruksi gerak oleh pencipta S. Winadi (1951:3).

Sistim-sistim tersebut belum dapat memenuhi harapan masyarakat, sehingga peralihan pencak silat dari sarana bela diri menjadi sejenis senam jasmani memakan waktu yang cukup lama. Tim ahli teknik IPSI yang terdiri dari pakar-pakar dari berbagai aliran harus mempelajari ratusan kaidah dan gerak dan mencoba menyatukan mereka tanpa menghilangkan warna-warni yang khas. Mereka juga harus menyesuaikan sistim pelajaran tradisional pencak silat yang berpatokan kepada jurus (seri atau kumpulan gerakan) dengan prinsip olah raga 'modern'. Selain mengalami kesulitan teknis dalam mengembangkan metode dan sistematika olah raga yang dapat diterima oleh semua pihak, IPSI juga mendapat resistensi dari kalangan pendekar tradisional yang enggan menerima pemikiran-pemikiran baru karena tidak menginginkan reduksi pencak silat hanya kepada satu bentuknya, yaitu olah raga. Mereka khawatir bahwa aspek integral yang lain, khususnya aspek seni dan aspek spiritual, akan diabaikan dan tidak dapat dirasakan lagi sebagai unsur-unsur yang saling terkait dalam satu totalitas sosio-kosmik.

Kesulitan juga datang dari luar dunia pencak silat, karena persaingan yang ketat dari bela diri impor. Antara 1960-1966, pada waktu terjadi kemerosotan ekonomi dan politik negara yang menimbulkan ketidakberdayaan IPSI, karate secara resmi masuk Indonesia dan dengan tangkasnya memasuki kalangan pelajar dan ABRI. Dari mulanya, karate dan judo dipraktekkan sebagai olah raga dan dipertandingkan di depan umum. Penerimaan yang positif terhadap bela diri asing, memaksa kalangan pencak silat untuk berpikir dan berbuat lebih baik dalam usaha mengembangkan pencak silat olah raga, atau seperti ditulis oleh salah satu koran masa itu "kehadiran karate di Indonesia merupakan cambuk yang benar-benar efektif untuk 'membangunkan' kalangan pencak dari tidurnya".
Penggeseran konseptual akhirnya terjadi, meskipun beberapa pendekar keberatan makna pencak silat sebagai unsur kebudayaan dalam arti luas dipersempit agar aspek olah raga dapat diutamakan. Sesudah 10 tahun lebih IPSI bergantung pada Kementrian PP dan K pada tahun 1961 dipindahkan ke departmen olah raga. Sesudah itu dibentuk satu komisi teknis khusus untuk merencanakan sebuah paket pencak silat olah raga untuk dipertandingkan. Untuk mendapatkan sistim yang paling effektif diadakan beberapa kali uji coba pertandingan full body contact.
Pada akhirnya IPSI berhasil memasuki pencak silat sebagai cabang olah raga prestasi pada PON VIII yang diselenggarakan pada tanggal 4-15 Augustus 1973 di Jakarta. Jumlah daerah yang ikut bertanding 15 dengan jumlah 128 pesilat terdiri dari 106 putra dan 22 putri. Keberhasilan ini akan diulangi lagi sesudah dua tahun, dengan diadakan kejuaraan nasional pencak silat olah raga untuk pertama kali di Semarang, pada tanggal 27 April 1975. Sistim pertandingan yang menggunakan pelindung dada ini, di tahun-tahun berikutnya akan disempurnakan sampai pada tahun 1980 akan diakui di dunia internasional dan tetap dipergunakan sampai masa kini.

Berkat kerja keras dan kepeawean pengurus IPSI bermula dari periode kepengurusan Mr.Wongsonegoro (1948-1973), Tjokropranolo (1973-1978), dan Eddie M. Nalapraya (1978-1998), serta dukungan pemerintah dan Presiden Republik Indonesia Suharto sebagai Pembina Utama, IPSI dengan cepat menyebar luas ke dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri, pada tahun 1970an IPSI mendirikan cabang di tiap wilayah, dan mulai mengorganisir even-even pencak silat olahraga dan seni pada tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Walaupun intensitas kegiatan sangat bervariasi antara wilayah, kehadiran IPSI sudah menjadi bagian dari pemerintahan daerah.
Penyebaran nasional ini diteruskan sejak tahun 1975 ke luar negeri. Menindak lanjuti upaya ketua terdahulu, yang memulai ekspor sistim pencak silat olahraga ke negeri seberang Malaysia dan Singapore dengan mendapat sambutan tangan terbuka, Eddie M. Nalapraya banyak membuat kebrakan-kebrakan baru dengan memperkenalkan dan menyebarkan pencak silat ke seluruh benua di dunia. Upaya ini diawali pada tanggal 11 Maret 1980 dengan pembentukan Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa (PERSILAT) bersama dengan negara sumber pencak silat, yaitu Malaysia, Singapore dan Brunei Darussalam dengan tujuan "mengarahkan dan menkordinasikan usaha dan kegiatan melestarikan, mengembangkan dan menyebarkuaskan pencak silat di seluruh dunia serta menjadikan pencak silat sebagai sarana untuk membina persahabatan antara bangsa dan perdamaian dunia". Atas initiatipnya dalam mendirikan wadah internasional ini, dan sekaligus sebagai pengakuan pada perannya dalam memelihara pencak silat dunia, Eddie M. Nalapraya terpilih sebagai Ketua Presidium PERSILAT dibantu oleh Oyong Karmayuda sebagai Sekretaris Jenderal. Di bawah kemimpinannya anggota PERSILAT terus menambah dan kini berjumlah 27 negara.

Dengan pembentukan PERSILAT jalan terbuka untuk mengadakan even-even internasional. Tahun 1982 pencak silat olah raga mulai dipertandingan pada tingkat internasional dengan Invitasi Pencak silat Internasional yang beberapa tahun kemudian akan diganti nama menjadi Kejuraan Dunia. Sejak 1987 pencak silat juga dipertandingkan secara resmi pada SEAGAMES.

Tugas IPSI tetapi belum selesai, karena tuntutan jaman terus bertambah. Sebagai reaksi kepada dominasi pencak silat olahraga dalam agenda IPSI, muncul lagi permintaan untuk melengkapi kembali pencak silat dengan memperhatikan aspek seni dan aspek spiritual. Masyarakat sangat mengharapkan bahwa pencak silat seni dilestarikan dan jika bisa distandarisasi, agar dapat dipertandingan pula di even nasional dan internasional -satu permintaan yang sudah mulai dipenuhi oleh IPSI. Lahirnya pada Kejuaran Dunia di Kuala Lumpur bulan April 1997 satu pendekatan baru yang mengabungkan pertandingan pencak silat olahraga, seni-beladiri dan jurus wiraloka sangat membantu upaya untuk mengembangkan pencak silat secara seutuhnya. Namun, sampai sekarang belum jelas bagaimana aspek spiritual yang menjadi kekayaan perguruan-perguruan Nusantara dapat dikelola, dan jika perlu dirasionalisasikan, oleh IPSI. Dengan begitu cita-cita IPSI belum sepenuhnya tercapai.

Untuk memperkuat organisasinya agar dapat menghadapi tantangan-tantangan baru dan mengantisipasi perkembangan masa mendatang, IPSI dengan dukungan Menpora Haryono Isman, baru saja selesai membangun padepokan pencak silat nasional di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, bersebelahan dengan Taman Angrek Indonesia. Tanah seluas 5,5 ha adalah sumbangan Almarhumah Ibu Negara Tien Soeharto. Beliau juga yang meletakan batu pertama pada 27 November 1994 dan memonitor arsitektur kompleks bangunan yang mayoritas bernafaskan Jawa modern ini. Para pendukung IPSI ini mengharapkan bahwa padepokan dapat menampung pesilat-pesilat dari mancanegara yang mau mendalami ilmu pencak silat. Dengan begitu, mereka ingin mengangkat martabat seni bela diri nenek moyang kita di mata internasional, dan mengonsolidasi posisi Indonesia sebagai negara pelopor pencak silat. Pencak silat adalah milik bangsa Melayu namun kenyataannya pencak silat yang menyebar ke seluruh mancanegara, kebanyakan adalah aliran yang bersumber dari Indonesia. Oleh karena itu Indonesialah tempatnya di mana khalayak peminat dapat mengetahui dan meneliti pencak silat sesuai aspek yang dipilihnya.
Bangunan sangat megah yang sudah diangan-angankan oleh para pendekar pencak silat kini menjadi kenyataan. Sebuah harapan bahwa dengan meningkatkan pemahaman mengenai pencak silat serta terus-menurus mencari masukan dan kajian baru, IPSI dapat menjawab masalah-masalah di atas, maupun persoalan-persoalan lainnya. Sebagai organisasi berskala nasional, IPSI perlu melakukan perencanaan yang terpadu dan mengaktifkan kembali seluruh bagian organisasi dari pusat sampai daerah agar dapat mewakili beraneka ragam aliran yang dibinanya. Mewujudkan semua ini merupakan tantangan bagi para pencinta pencak silat di bawah bimbingan IPSI agar menyumbangkan kegiatan sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya: alam sudah tersedia bisakah kita memanfaatkannya? Selamat ulang tahun dan selamat bekerja IPSI!
O'ong Maryono
Peneliti dan pengamat bela diri

Kamis, 25 September 2008

STRUKTUR ORGANISASI PENCAK SILAT
ISBATUL HUSNA
Cabang SMAN 1 Cihaurbeuti
Tahun 2008/2009





Pelindung : -Kepala SMAN 1 Cihaurbeuti
-Guru Besar Perguruan
Penanggung jawab : Wakasek Kesiswaan
Pembina : -Pembina OSIS
-Pembina Olahraga
Pelatih : -Sekar Panji Nuralam S.Pd
-kelas XII
Ketua Umum : Ketua OSIS SMAN 1 Cihaurbeuti
Ketua Harian : Khairul Ridwan
Wakil : Gun-gun Gunawan
sekertaris : Evi Fauziah
Bendahara : Lani Maulani

Seksi Tarung : Dian Andriana
Seksi TGR : Cecep Ahmad Yusup
Anggota :Pesilat kelas X & XII

ASSALAMU'ALAIKUM Wr.Wb

Selamat datang kami ucapkan di situs kami Perguruan Pencak Silat dan Olahraga Pernapasan Isbatul Husna ( PPSOPIH ), semoga kunjungan antum pada situs kami dapat menambah pengetahuan antum tentang dunia Persilatan.

Sejarah Ikatan Pencak Silat Indonesia

[sunting] Sejarah dan perkembangannya

Pencak Silat sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat Indonesia. Dengan aneka ragam situasi geografis dan etnologis serta perkembangan zaman yang dialami oleh bangsa Indonesia, Pencak Silat dibentuk oleh situasi dan kondisinya. Kini Pencak Silat kita kenal dengan wujud dan corak yang beraneka ragam, namun mempunyai aspek-aspek yang sama.

Pencak Silat merupakan unsur-unsur kepribadian bangsa Indonesia yang dimiliki dari hasil budi daya yang turun temurun. Sampai saat ini belum ada naskah atau himmpunan mengenai sejarah pembelaan diri bangsa Indonesia yang disusun secara alamiah dan dapat dipertanggung jawabkan serta menjadi sumber bagi pengembangan yang lebih teratur.

Hanya secara turun temurun dan bersifat pribadi atau kelompok latar belakang dan sejarah pembelaan diri inti dituturkan. Sifat-sifat ketertutupan karena dibentuk oleh zaman penjajahan di masa lalu merupakan hambatan pengembangan di mana kini kita yang menuntut keterbukaan dan pemassalan yang lebih luas.

[sunting] A. Perkembangan pada zaman sebelum penjajahan Belanda

Nenek moyang kita telah mempunyai peradaban yang tinggi, sehingga dapat berkembang menjadi rumpun bangsa yang maju. Daerah-daerah dan pulau-pulau yang dihuni berkembnag menjadi masyarakat dengan tata pemerintahan dan kehidupan yang teratur. Tata pembelaan diri di zaman tersebut yang terutama didasarkan kepada kemampuan pribadi yang tinggi, merupakan dasar dari sistem pembelaan diri, baik dalam menghadapi perjuangan hidup maupun dalam pembelaan berkelompok.

Para ahli pembelaan diri dan pendekar mendapat tempat yang tinggi di masyarakat. Begitu pula para empu yang membuat senjata pribadi yagn ampuh seperti keris, tombak dan senjata khusus. Pasukan yang kuat di zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit serta kerajaan lainnya di masa itu terdiri dari prajurit-prajurit yang mempunyai keterampilan pembelaan diri individual yang tinggi. Pemukupan jiwa keprajuritan dan kesatriaan selalu diberikan untuk mencapai keunggulan dalam ilmu pembelaan diri. Untuk menjadi prajurit atau pendekar diperulan syarat-syarat dan latihan yang mendalam di bawah bimbingan seorang guru. Pada masa perkembangan agama Islam ilmu pembelaan diri dipupuk bersama ajaran kerohanian. Sehingga basis-basis agama Islam terkenal dengan ketinggian ilmu bela dirinya. Jelaslah, bahwa sejak zaman sebelum penjajahan Belanda kita telah mempunyai sistem pembelaan diri yang sesuai dengan sifat dan pembawaan bangsa Indonesia.

[sunting] B. Perkembangan Pencak Silat pada zaman penjajahan Belanda

Suatu pemerintahan asing yang berkuasa di suatu negeri jarang sekali memberi perhatian kepada pandangan hidup bangsa yang diperintah. Pemerintah Belandan tidak memberi kesempatan perkembangan Pencak Silat atau pembelaan diri Nasional, karena dipandang berbahaya terhadap kelangsungan penjajahannya. Larangan berlatih bela diri diadakan bahkan larangan untuk berkumpul dan berkelompok. Sehingga perkembangan kehidupan Pencak Silat atau pembelaan diri bangsa Indonesia yang dulu berakar kuat menjadi kehilangan pijakan kehidupannya. Hanya dengan sembunyi-sembunyi dan oleh kelompok-kelompok kecil Pencak Silat dipertahankan. Kesempatan-kesempatan yang dijinkan hanyalah berupa pengembangan seni atau kesenian semata-mata masih digunakan di beberapa daerah, yang menjurus pada suatu pertunjukan atau upacara saja. Hakekat jiwa dan semangat pembelaan diri tidak sepenuhnya dapat berkembang. Pengaruh dari penekanan di zaman penjajahan Belanda ini banyak mewarnai perkembangan Pencak Silat untuk masa sesudahnya.

[sunting] C. Perkembangan Pencak Silat pada pendudukan Jepang

Politik Jepang terhadap bangsa yang diduduki berlainan dengan politik Belanda. Terhadap Pencak Silat sebagai ilmu Nasional didorong dan dikembangkan untuk kepentingan Jepang sendiri, dengan mengobarkan semangat pertahanan menghadapi sekutu. Di mana-mana atas anjuran Shimitsu diadakan pemusatan tenaga aliran Pencak Silat. Di seluruh Jawa serentak didirkan gerakan Pencak Silat yang diatur oleh Pemerintah. Di Jakarta pada waktu itu telah diciptakan oleh para pembina Pencak Silat suatu olarhaga berdasarkan Pencak Silat, yang diusulkan untuk dipakai sebagai gerakan olahraga pada tiap-tiap pagi di sekolah-sekolah. Usul itu ditolak oleh Shimitsu karena khawatir akan mendesak Taysho, Jepang. Sekalipun Jepang memberikan kesempatan kepada kita untuk menghidupkan unsur-unsur warisan kebesaran bangsa kita, tujuannya adalah untuk mempergunakan semangat yang diduga akan berkobar lagi demi kepentingan Jepang sendiri bukan untuk kepentingan Nasional kita.

Namun kita akui, ada juga keuntungan yang kita peroleh dari zaman itu. Kita mulai insaf lagi akan keharusan mengembalikan ilmu Pencak Silat pada tempat yang semula didudukinya dalam masyarakat kita.

[sunting] D. Perkembangan Pencak Silat pada Zaman Kemerdekaan

Walaupun di masa penjajahan Belanda Pencak Silat tidak diberikan tempat untuk berkembang, tetapi masih banyak para pemuda yang mempelajari dan mendalami melalui guru-guru Pencak Silat, atau secara turun-temurun di lingkungan keluarga. Jiwa dan semangat kebangkitan nasional semenjak Budi Utomo didirikan mencari unsur-unsur warisan budaya yang dapat dikembangkan sebagai identitas Nasional. Melalui Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia maka pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta terbentuklah IPSI yang diketuai oleh Mr. Wongsonegoro.

Program utama disamping mempersatukan aliran-aliran dan kalangan Pencak Silat di seluruh Indonesia, IPSI mengajukan program kepada Pemerintah untuk memasukan pelajaran Pencak Silat di sekolah-sekolah.

Usaha yang telah dirintis pada periode permulaan kepengurusan di tahun lima puluhan, yang kemudian kurang mendapat perhatian, mulai dirintis dengan diadakannya suatu Seminar Pencak Silat oleh Pemerintah pada tahun 1973 di Tugu, Bogor. Dalam Seminar ini pulalah dilakukan pengukuhan istilah bagi seni pembelaan diri bagnsa Indonesia dengan nama "Pencak Silat" yang merupakan kata majemuk. Di masa lalu tidak semua daerah di Indonesia menggunakan istilah Pencak Silat. Di beberapa daerah di jawa lazimnya digunakan nama Pencak sedangkan di Sumatera orang menyebut Silat. Sedang kata pencak sendiri dapat mempunyai arti khusus begitu juga dengan kata silat.

Pencak, dapat mempunyai pengertian gerak dasar bela diri, yang terikat pada peraturan dan digunakan dalam belajar, latihan dan pertunjukan.

Silat, mempunyai pengertian gerak bela diri yang sempurna, yang bersumber pada kerohanian yang suci murni, guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama, menghindarkan diri/ manusia dari bela diri atau bencana. Dewasa ini istilah pencak silat mengandung unsur-unsur olahraga, seni, bela diri dan kebatinan. Definisi pencak silat selengkapnya yang pernah dibuat PB. IPSI bersama BAKIN tahun 1975 adalah sebagai berikut :

Pencak Silat adalah hasil budaya manusia Indonesia untuk membela/mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan integritasnya (manunggalnya) terhadap lingkungan hidup/alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

[sunting] Aspek dalam pencak silat

[sunting] Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian

Umumnya Pencak Silat mengajarkan pengenalan diri pribadi sebagai insan atau mahluk hidup yang pecaya adanya kekuasaan yang lebih tinggi yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya, Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian/kebatinan diberikan kepada siswa yang telah lanjut dalam menuntut ilmu Pencak Silatnya. Sasarannya adalah untuk meningkatkan budi pekerti atau keluhuran budi siswa. Sehingga pada akhirnya Pencak Silat mempunyai tujuan untuk mewujudkan keselarasan/ keseimbangan/keserasian/alam sekitar untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, guna mengisi Pembangunan Nasional Indonesia dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang Pancasilais.

[sunting] Pencak Silat sebagai seni

Ciri khusus pada Pencak Silat adalah bagian kesenian yang di daerah-daerah tertentu terdapat tabuh iringan musik yang khas. Pada jalur kesenian ini terdapat kaidah-kaidah gerak dan irama yang merupakan suatu pendalaman khusus (skill). Pencak Silat sebagai seni harus menuruti ketentuan-ketentuan, keselarasan, keseimbangan, keserasian antara wirama, wirasa dan wiraga.

Di beberapa daerah di Indonesia Pencak Silat ditampilkan hampir semata-mata sebagai seni tari, yang sama sekali tidak mirip sebagai olahraga maupun bela diri. Misalnya tari serampang dua belas di Sumatera Utara, tari randai di Sumatera Barat dan tari Ketuk Tilu di Jawa Barat. Para penari tersebut dapat memperagakan tari itu sebagai gerak bela diri yang efektif dan efisien untuk menjamin keamanan pribadi.

[sunting] Pencak Silat sebagai olahraga umum

Walaupun unsur-unsur serta aspek-aspeknya yang terdapat dalam Pencak Silat tidak dapat dipisah-pisahkan, tetapi pembinaan pada jalur-jalur masing-masing dapat dilakukan. Di tinjau dari segi olahraga kiranya Pencak Silat mempunyai unsur yang dalam batasan tertentu sesuai dengan tujuan gerak dan usaha dapat memenuhi fungsi jasmani dan rohani. Gerakan Pencak Silat dapat dilakukan oleh laki-laki atau wanita, anak-anak maupun orang tua/dewasa, secara perorangan/kelompok.

Usaha-usaha untuk mengembangkan unsur-unsur olahraga yang terdapat pada Pencak Silat sebagai olahraga umum dibagi dalam intensitasnya menjadi :

  • Olahraga rekreasi
  • Olahraga prestasi
  • Olahraga massal


Pada seminar Pencak Silat di Tugu, Bogor tahun 1973, Pemerintah bersama para pembina olahraga dan Pencak Silat telah membahas dan menyimpulkan makalah-makalah :

  • 1. Penetapan istilah yang dipergunakan untuk Pencak Silat
  • 2. Pemasukan Pencak Silat sebagai kurikulum pada lembaga-lembaga pendidikan
  • 3. Metode mengajar Pencak Silat di sekolah
  • 4. Pengadaan tenaga pembina/guru Pencak Silat untuk sekolah-sekolah
  • 5. Pembinaan organisasi guru-guru Pencak Silat dan kegiatan Pencak Silat di lingkungan sekolah
  • 6. Menanamkan dan menggalang kegemaran serta memassalkan Pencak Silat di kalangan pelajar/mahasiswa.

Sebagai tindak lanjut dari pemikiran-pemikiran tersebut dan atas anjuran Presiden Soeharto, program olahraga massal yang bersifat penyegaran jasmani digarap terlebih dahulu, yang telah menghasilkan program Senam Pagi Indonesia (SPI).

[sunting] Pencak Silat sebagai olahraga prestasi (olahraga pertandingan)

Pengembangan Pencak Silat sebagai olahraga & pertandingan (Championships) telah dirintis sejak tahun 1969, dengan melalui percobaan-percobaan pertandingan di daerah-daerah dan di tingkat pusat. Pada PON VIII tahun 1973 di Jakarta telah dipertandingkan untuk pertama kalinya yang sekaligus merupakan Kejuaraan tingkat Nasional yang pertama pula. Masalah yang harus dihadapi adalah banyaknya aliran serta adanya unsur-unsur yang bukan olahraga yang sudah begitu meresapnya di kalangan Pencak Silat. Dengan kesadaran para pendekar dan pembina Pencak Silat serta usaha yang terus menerus maka sekarang ini program pertandingan olahraga merupakan bagian yang penting dalam pembinaan Pencak Silat pada umumnya. Sementara ini Pencak Silat telah disebarluaskan di negara-negara Belanda, Belgia, Luxemburg, Perancis, Inggris, Denmark, Jerman Barat, Suriname, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru.

[sunting] Program pembinaan Pencak Silat

Pencak Silat sebagai budaya Nasional bangsa Indonesia mempunyai banyak ragam khas maisng-masing daerah, jumlah perguruan/aliran di segenap penjuru tanah air ini diperkirakan sebanyak 820 perguruan/aliran.

Oleh karena itu dirasakan perlu adanya pembinaan yang sistimatis untuk melestarikan warisan nenek moyang kita. Terlebih-lebih setelah Kungfu masuk IPSI, atas anjuran Pemerintah berdasarkan pertimbangan lebih baik Kungfu berada di dalam IPSI sehingga lebih mudah dalam mengadakan pengawasan dan pengendalian terhadapnya, sekaligus menasionalisasikan.

Standarisasi yang telah dirintis pembuatannya, hanyalah untuk jurus dasar bagi keperluan khusus olahraga dan bela diri. Sedangkan pengembangannya telah diserahkan kepad setiap perguruan yang ada. Sistem pembinaan yang dipakai oleh IPSI ialah setiap aspek yang ada dijadikan jalur pembinaan, sehingga jalur pembinaan Pencak Silat meliputi :

  • 1. Jalur pembinaan seni
  • 2. Jalur pembinaan olahraga
  • 3. Jalur pembinaan bela diri
  • 4. Jalur pembinaan kebatinan


Selasa, 23 September 2008

PROFIL PENCAK SILAT ISBATUL HUSNA


STRUKTUR ORGANISASI PENCAK SILAT
ISBATUL HUSNA
Cabang SMAN 1 Cihaurbeuti
Tahun 2007/2008





Pelindung : -Kepala SMAN 1 Cihaurbeuti
-Guru Besar Perguruan
Penanggung jawab : Wakasek Kesiswaan
Pembina : -Pembina OSIS
-Pembina Olahraga
Pelatih : -Sekar Panji Nuralam S.Pd
-kelas XII
Ketua Umum : Ketua OSIS SMAN 1 Cihaurbeuti
Ketua Harian : Arief Santoso
Wakil : Gun-gun Gunawan
sekertaris : Tuti Sulastri
Bendahara : Tati Sumiati

Seksi Tarung : Sariful Rizal
Seksi TGR : Tatang
Anggota :Pesilat kelas X & XII

TUGAS PESILAT ISBATUL HUSNA KELAS X & XI

Buatlah ucapan selamat idul fitri 1429 H ditujukan kepada seluruh pesilat perguruan Isbatul Husna dan kritik beserta saran antum untuk kemajuan Perguruan Pencak Silat dan Olahraga Pernapasan Isbatul Husnna ( PPSOPIH ).KIRIMKAN Lewat email ke alamat ini :
santoso_ariefh35p4y@yahoo.com

Dengan ketentuan sbb:
-bahasa yang digunakan harus sopan
-mencantumkan biodata yang lengkap
-dibuat menarik dan kreatif
-paling lambat dikirim sebelum masuk sekolah

silahkan masukan komentar anda pada blog ini sebagai tanda tugas anda telah masuk pada alamat kami!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!